Sambak Online merupakan Jaringan Internet swadaya yang dirintis dan dikelola oleh pegiat dan relawan TIK yang ada di Desa Sambak Kecamatan Kajoran Magelang. Dimulai sejak tahun 2012. Kemudian sekitar tahun 2014 mulai kerjasama dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Sambak sampai sekarang.

Rabu, 21 Maret 2012

Belajar Kenali Lingkungan, Siswa Diajari Berkebun

Sore itu pemandangan sedikit berbeda di lingkungan SMP Muhammadiyah Sambak. Biasanya siswa melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler sore antara lain pramuka, siaran radio, seni musik dan lain-lain. Namun, sore itu tak seperti biasanya. Siswa berangkat dari rumah dengan membawa peralatan layaknya orang berkebun seperti, cangkul, ember, sekop dan lain-lain. Bukan untuk mencangkul halaman sekolah, bukan pula kerja bhakti membersihkan rumput. Peralatan yang dibawa siswa adalah untuk kegiatan life skill berkebun menanam bibit terong, tomat dan cabai di polibag.

Dimulai dari menyiapkan media tanam, yakni tanah yang dicampur dengan pupuk kandang dan sedikit merang dari sisa penggilingan padi. Kemudian tanah yang sudah tercampur tersebut di masukkan ke dalam polibag berukuran sedang. Setelah itu, di biarkan 1-2 hari baru kemudian ditanami bibit yang di inginkan. Terlihat antusisme dari anak-anak dalam kegiatan ini, kendati tidak sedikit pula yang merasa jijik karena harus berkotor-kotor dengan pupuk kandang dan tanah.

“Senang sekali, karena kami bisa belajar bagaimana mengolah tanah menjadi media tanam yang baik. Meskipun harus kotor, tapi kegiatan ini menyenangkan. Dan yang lebih penting bermanfaat”. Ungkap Rosyid Nur Huda, salah seorang siswa kelas IX (Sembilan) SMP Muhammadiyah Sambak Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang.

Kegiatan ini bertujuan agar siswa peduli dan mampu mengenali lingkungan dengan segala potensi yang ada. Disamping itu, juga mengajarkan siswa bagaimana mengelola lahan yang terbatas dipekarangan rumah menjadi lebih hijau dan bermanfaat. Peduli terhadap lingkungan bisa diwujudkan dengan berbagai hal. Salah satunya adalah memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada secara bertanggung jawab yakni berkebun menanam tanaman sayuran atau tanaman obat-obatan.

Muhammad Ainur Rofiq, salah satu Guru SMP Muhammadiyah Sambak menuturkan, selain mengenalkan pada lingkungan sekitar, kegiatan ini juga bertujuan belajar bersama-sama memanfaatkan potensi yang ada. Siswa juga dilibatkan dari awal, yakni dimulai dari pengolahan tanah atau media tanam sampai penanaman bibit. Setelah itu, di dampingi pula dalam proses merawat tanaman sampai berbuah dan siap dipanen. Siswa juga di bimbing tentang penghitungan modal, kebutuhan perawatan, hingga laba yang didapatkan.

“Secara teknis, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 10-12 siswa meliputi ketua, sekretaris dan bendahara. Kelompok-kelompok kecil inilah yang nanti merawat dan mengelola tanaman mereka masing-masing. Jika hal tersebut sudah berjalan, hasil tanaman yang dikelola oleh siswa kemudian bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Disamping untuk kebutuhan sendiri, tidak menutup kemungkinan kedepan nanti bisa dijual.” Kata Rofiq.

“Kami akan memulainya dengan menanam bibit terong ungu di polibag. Kenapa terong ungu yang kami pilih, karena tanaman ini disamping relatif mudah dalam perawatan juga sering dimanfaatkan sebagai sayuran sehari-hari. Jadi prospeknya cukup menjanjikan”. Tambah Muh. Sutanto, yang juga Guru di SMP Muhammadiyah Sambak.
Selama ini berkebun dianggap suatu hal yang sepele dan remeh, terlebih di lingkungan pedesaan. Berkebun dianggap sebagai sesuatu yang mudah. Padahal jika dipraktekkan, belum tentu semua bisa melakukan dengan baik dan benar dengan hasil sesuai yang diharapkan.

“Kalau siswa tidak dikenalkan dengan lingkungan sejak awal, nantinya akan asing terhadap lingkungan nya. Disamping mengenalkan pada lingkungan sekitar, berkebun juga akan mengajari siswa tentang keterampilan bagaimana proses merencanakan, merawat dan mengelola hasil.” Pungkas Sutanto. (ahm)

Jumat, 20 Agustus 2010

Pasar Pagi, Kontribusi Positif Bagi Perekonomian Di Desa Sambak

MAGELANG - Pasar adalah salah satu pusat perekonomian masyarakat yang merupakan pusat terjadinya berbagai transaksi barang. Dalam pengertian yang sederhana pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual beli (penjualan dan pembelian) yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu.

Sejak 3 tahun lalu, tepatnya tahun 2007 di Desa Sambak ada pasar pagi. Pasar ini menyediakan berbagai macam kebutuhan seperti sayur-sayuran, lauk-pauk, baik matang maupun mentah. Disamping itu tersedia juga makanan-makanan tradisional khas masyarakat sambak seperti: Klemet, getuk chotot, petotan, geblek dan lain-lain. Sayur yang sudah matang pun tersedia disini dari buntil(daun talas yang membungkus parutan kelapa dimasak pakai santan) sampai opor ayam. Kebanyakan didapatkan dari lingkungan sekitar yang memang rata-rata masyarakat menanam sendiri.

Jika ingin menikmati jajanan tradisional yang khas tersebut, pasar pagi buka setiap Pon, legi (dalam penanggalan jawa) dan Hari minggu. Saat ini pedagang yang berjualan di pasar tersbut berjumlah sekitar 15 sampai 20 Orang. Meskipun terbilang pasar tradisional yang sangat sederhana, pasar pagi di Desa Sambak paling tidak menjadi kontribusi positif sebagai pusat perputaran ekonomi di Desa ini. Tempatnya juga strategis yakni berada di emperan Balai Desa yang posisinya berada di tengah Desa.

Menurut Fitri(35) salah satu pedagang di pasar tersebut mengatakan:”setiap hari pasaran, biasanya selalu ramai pembeli, tapi kadang-kadang sempat  juga sepi”. Ujarnya.

Salah seorang pembeli juga mengatakan:“Dulu, sebelum ada pasar pagi saya sering kepasar yang jaraknya sekitar 6 Kilometer dari rumah untuk membeli sayuran matang siap saji. Tapi setelah adanya pasar pagi ini saya sering beli disini”. Katanya.

Pemrakarsa adanya pasar pagi ini adalah ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Peduli Perempuan (KPP) Sekar Melati Desa Sambak Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang. Yang kemudian juga dikelola oleh Kelompok Peduli Perempuan (KPP).

Tidak hanya dikunjungi oleh warga sambak saja, tetapi warga dari desa lain pun biasanya juga sudah menjadi langganan di pasar ini. Disamping menjadi andalan bagi Desa Sambak, pasar pagi ini juga ramai di datangi pembeli dari luar Desa Sambak.(rfq)

Sambak Berlakukan Jam Belajar Bagi Anak

MAGELANG. Sesuai dengan surat keputusan dari bupati magelang yang menyatakan bahwasanya pada waktu maghrib sampai jam delapan malam setiap rumah tidak boleh menyalakan televisi. Peraturan tersebut dibuat untuk mengurangi dan menghilangkan kebiasaan anak yang sering menonton tayangan televisi pada jam tersebut. Untuk sekarang ini banyak sekali kita jumpai anak-anak yang sering menonton televisi pada jam tersebut. Padahal jam-jam tersebut seharusnya di optimalkan untuk belajar, baik itu belajar agama maupun pelajaran umum. Dengan peraturan larangan menyalakan televisi itu diharapkan nantinya anak benar-benar mengunakan waktunya untuk belajar.

Peraturan larangan menyalakan televisi dari waktu maghrib sampai jam 20:00WIB tersebut akan diterapkan disetiap-tiap rumah, khususnya rumah yang di dalamnya masih terdapat anggota keluarganya yang masih duduk di bangku sekolah. Meskipun peraturan itu masih sebatas wacana dan masih disosialisasikan pada selapanan ditiap-tiap Rukun Warga (RW) diharapkan nantinya ada suatu keputusan resmi dari kepala desa. “Ya, peraturan itu sebenarnya sudah disampaikan di RW setiap ada selapangan namun masih sebatas wacana dan belum ada aturan atau denda yang nantinya dikenakan ketika melanggar,”ungkap Zubed selaku ketua Forum Komunikasi Ukhuwah Islamiyah (FKUI). Bermula dari keinginan FKUI yang menginginkan pada saat bakda maghrib anak-anak dianjurkan untuk mengaji maka ketika mengetahui adanya surat edaran dari bupati tersebut maka forum yang berisi para ulama dan sesepuh desa sambak menyepakati bahwasanya peraturan itu harus diterapkan.

Untuk mensukseskan dan menjalankan peraturan itu tentunya diharapkan peran dan dukungan dari semua masyarakat. Tidak hanya aparat desa saja yang harus memberikan contoh. Namun yang lebih tepat dan efektif untuk menerapkan peraturan itu adalah dari orang tua atau kepa keluarga di tiap-tiap rumah. Pasalnya, kebiasaan dan perilaku anak akan bermula dari didikan di rumahnya. Jika pendidikan dalam kelaurga itu bagus maka akan melahirkan anak atau generasi bangsa yang berbudi pekerti luhur dan bermoral. Dan untuk itu peran serta orang tua dalam melarang anak-anaknya menonton televise pada waktu mahgrib sampai jam 20:00 WIB adalah jalan dimana agar anak bias sukses dalam sekolahnya. Karena pada jam-jam itulah proses belajar akan berjalan lancer, anak akan cepat menerima pelajaran ketimbang belajarnya pada malam hari atau sesedah jam 8 malam. Selain itu agar menjadikan anak mempunyai religiusitas atau bermoral agama jam-jam sehabis maghrib adalah waktu yang tepat dan efektif untuk mengaji dan mendalami ilmu agama. Dan diharapkan dari peraturan itu nantinya para generasi penerus bangsa yang lahir dari anak itu khususnya di desa sambak mampu menjadi orang yang berakhlaq mulia dan berpengetahuan luas. (Danu Utomo)

Jumat, 11 Desember 2009

Lebih 10 Menit, Tidak Boleh Adzan Pakai Pengeras Suara

Pada setiap masuk waktu sholat kita selalu mendengarkan lantunan suara adzan. Namun, jika suara adzan itu dikumandangkan jauh dari waktu atau jadwal sholat apakah masih boleh? Selain itu ketika kita sudah selesai sholat kita pernah mendengarkan suara adzan atau pada saat bulan puasa, ketika kita sudah berbuka puasa sesuai dengan jadwal yang tertera masih saja ada masjid atau surau yang mengumandangkan adzan dengan selisih 10 sampai 15 menit. Nah, hal itulah yang sering membuat persepsi atau anggapan masyarakat yang tidak-tidak. Mereka akan beranggapan apakah adzan yang tadi itu belum saatnya dengan mendengar adzan yang terakhir, atau adzan yang terakhir itu menandakan waktu sholat yang syah. Itulah fenomena atau kebiasaan yang terjadi di masyarakat kita.

Selasa, 13 Oktober 2009

Elpiji 3 Kg Langka di Sambak

MAGELANG - Warga Desa Sambak, Magelang sempat resah akibat langkanya gas elpiji 3 Kg belakangan ini. Kelangkaan elpiji juga terjadi di beberapa kecamatan lainnya. Pada akhir September 2009, warga sulit mendapatkan elpiji di toko-toko dan agen distribusi gas selama seminggu.

Menurut Anas, seorang distributor LPG di Kabupaten Magelang, kelangkaan gas terjadi akibat produksi gas elpiji 3 kg masih terbatas.

Kelangkaan gas membingungkan para pemilik pangkalan gas di Sambak. Juniarti, pemilik pangkalan gas elpiji di Desa Sambak mengaku tidak bisa menjelaskan penyebab menghilangnya elpiji.



.“Saya sendiri bingung melayani pembeli yang antri, apalagi mereka sudah memesannya pada hari-hari sebelumnya,” ujar Juniarti

Warga yang tidak bisa mendapatkan gas selanjutnya beralih ke kayu bakar. Kayu bakar mudah didapatkan di pekarangan maupun kebun warga.

"Saya menggunakan kayu bakar untuk memasak,” cerita Mustoliyah (42), warga Sambak. (Fery_skp).