Sambak Online merupakan Jaringan Internet swadaya yang dirintis dan dikelola oleh pegiat dan relawan TIK yang ada di Desa Sambak Kecamatan Kajoran Magelang. Dimulai sejak tahun 2012. Kemudian sekitar tahun 2014 mulai kerjasama dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Sambak sampai sekarang.

Senin, 13 Juli 2009

Pilpres Di Sambak Relatif Tertib Dan Lancar

Pemilhan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) yang dilaksanakan kemarin rabu (08/07/09) di Desa sambak, berlangsung relatif tertib dan lancar. Berdasarkan pantauan di lapangan yakni di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 yang berlokasi di Balai Desa Sambak, tidak ditemukan kendala yang berarti. Dan antusiasme dari masyarakat tergolong cukup tinggi. Dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 1 yakni 556 yang menggunakan hak suaranya lebih dari 70 %. Masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya kebanyakan sedang merantau keluar kota.

Meskipun tidak ditemui kendala yang berarti, namun tetap saja ada yang “Nyleneh” pada saat penyontrengan. Setelah dilakukan penghitungan suara ternyata ditemukan surat suara yang sengaja dirusak oleh pemilih. Ada yang di silang pada semua gambar Capres&cawapres ada pula yang mencoret-coret muka semua pasangan capres&cawapres.
Menurut Murtadlo(50), salah seorang anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 1 mengungkapkan :”Wah kalau ini pasti ada unsue kesengajaan, karena warna tinta yang digunakan untuk mencoret-coret berbeda dengan warna tinta yang disediakan oleh panitia. Ini jelas-jelas tidak sah.” Ujarnya.

Jika dibandingkan dengan Pemilu legislatif lalu, kali ini rata-rata tiap pemilih hanya memerlukan 2-3 menit di bilik suara pada Pilpres kemarin. Pada Pemilu legislatif lalu rata-rata pemilih menggunakan waktu relatif lama yakni 5-10 menit karena memang kertas suara yang lebar dan banyak.

Mujiman (58) Ketua KPPS di TPS 1 mengungkapkan:”Kali ini lebih cepat, karena kertas suara hanya satu lembar dan tidak terlalu lebar jadi warga tidak terlalu bingung. Berbeda dengan pemilu legislatif yang lalu.”Terangnya.

Menurut Ahmad Yusuf (25) sekretaris Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Sambak mengatakan :”Dari jumlah DPT di Desa Sambak yang berjumlah 1649, diperoleh hasil sebagai berikut ; Pasangan Mega-Prabowo 287 suara, SBY-Boediono 656 dan JK-Wiranto 183 jadi suara yang sah berjumlah 1126. Sementara suara yang tidak sah berjumlah 89.” Ungkapnya.

Desa Sambak membagi TPS menjadi 3 titik. TPS 1 berlokasi di Balai Desa Sambak, TPS 2 berlokasi di Dusun Jarakan Timur dan TPS 3 berlokasi di Dusun Sindon.
(rfq-skpfm)

Sabtu, 20 Juni 2009

Bokashi, Pupuk Alternatiif Bagi Petani


Pupuk merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang berguna untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan dan holtikultura. Kenyataan di saat sekarang, bahwa harga pupuk pabrikan sangat mahal. Bahkan tidak jarang langka di pasaran. Hal ini sangat mempengaruhi setiap biaya produksi yang dikeluarkan oleh para petani kita. Untuk itu sebagai salah satu alternatif agar beban biaya produksi khususnya di sarana produksi (pupuk) berkurang, maka disarankan para petani kita untuk memakai pupuk organik, dalam hal ini adalah Bokashi.

Akan lebih bijaksana lagi apabila para petani kita nantinya akan mampu untuk memproduksi sendiri pupuk bokashi tersebut dengan biaya yang sangat minimal dan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi lingkungan yang ada. Upaya ini antara lain perlu diterapkan suatu teknologi baru yang murah, tepat guna, mudah tersedia bagi petani khususnya dengan memanfaatkan seluruh potensi seumber daya yang ada, sehingga tidak memutuskan rantai sisitem ekologi pertanian itu sendiri.

Paguyuban Kelompok Tani yang ada di sambak, Jum’at 05/06/09 mengadakan pelatihan pembuatan pupuk Bokashi. Pelatihan ini diikuti oleh beberapa kelompok petani yang ada di Desa Sambak antara lain : Kelompok Tani Ngudi Mulyo, Ngudi Tentrem, Ngudi Makmur dan Ngudi Raharjo. Pelatihan yang dilakukan di halaman rumah Kepala Desa Sambak ini diikuti sekitar 20 orang.

“Pada pertemuan yang sudah dilakukan ke tiga kali ini kita melakukan praktek pembuatan pupuk Bokashi”.Ungkap Kozin salah satu pengurus paguyuban.

Menurut Dahlan (48) kepala Desa Sambak menuturkan: “Kegiatan ini bertujuan agar para petani yang ada di Desa Sambak kedepannya tidak tergantung pada pupuk kimia yang dapat merusak tanah. Syukur-syukur nantinya kita bisa memproduksi secara banyak sehingga kebutuhan pupuk akan selalu tercukupi”. Ujarnya.

Pada kesempatan yang sama hadir pula dari Dinas Pertanian tanaman pangan, perkebunan dan kehutanan kabupaten magelang yakni Muhlasin yang mendampingi para petani melakukan praktek pembuatan pupuk Bokashi. Juga hadir Ashar Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sambak dan lain-lain.

Muhlasin (50) mengungkapkan : “ Sebenarnya pembuatan pupuk Bokashi bisa dari bahan-bahan yang mudah didapatkan di sekitar kita. Pada prinsipnya petani dapat mengelola lahan pertanian mereka dengan biaya sedikit tapi hasil maksimal dan berkualitas serta tidak tergantung pada pupuk kimia.”Ujarnya.

Nama Bokashi sendiri merupakan kependekan dari Bahan Organik Kaya Akan Sumber Hayati. Pupuk Bokashi merupakan hasil fermentasi bahan organik yang terdiri dari jerami, sampah, pupuk kandang, sekam padi, serbuk gergaji, rumput-rumputan dan lain-lain Dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan sebagai sebagai pupuk organic untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan produksi tanaman.

Menurut sumber dari KIPPK Kabupaten Magelang, Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan dapat langsung digunakan sebagai pupuk. Manfaatnya bagi para petani adalah sebagai sumber pupuk organik yang siap pakai dalam waktu yang sangat singkat.
(rfq-antx skpfm)

Senin, 11 Mei 2009

Radio Komunitas Sebagai Pelestari Budaya Lokal

Industri media massa baik cetak maupun elektronik ternyata lebih banyak membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat. konsumerisme dan hedonisme yang begitu getol dipropagandakan menjadi bancana sosial yang susah untuk diobati. Yang lebih parah adalah ketika beragam budaya asli bangsa ini kian terkikis karena media massa cenderung lebih senang mengumbar budaya barat.

Generasi muda kini tak lagi mengenal akar budaya mereka, kebajikan dan keluhuran budaya timur tak mampu membuat generasi muda tertarik untuk mempelajarinya. Generasi muda lebih asyik dengan budaya-budaya barat yang materialistis lagi hedonis. Tak heran jika saat ini banyak ragam budaya asli bangsa yang dijiplak dan dipatenkan oleh bangsa lain. Sebuah imbas dari ketidakseriusan bangsa ini dalam menjaga dan memperhatikan budaya asli bangsa.

Berbagai dampak buruk yang dibawa industri media massa tersebut ternyata tidak membuat pemerintah gerah, justru sampai detik ini pemerintah terkesan tidak serius dalam menanggulanginya. Dunia pendidikan yang diharapkan mampu untuk membentuk generasi yang mencintai budaya bangsanya pun ternyata tak luput dari kegagalan. Dunia pendidikan kini justru telah terkontaminasi dengan faham-faham yang akarnya adalah materialisme. Simak saja, betapa dunia pendidikan makin hari makin terbuka dalam menjual diri. Tidak ada pendidikan gratis, murah lagi berkualitas di negeri ini.

Sepertinya tidak ada cara lain untuk membentengi bangsa ini dari bencana moral sebagai imbas dari materialisme kecuali dengan menanamkan kembali ajaran-ajaran luhur budaya asli bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai transendental. Dunia pendidikan harus lebih menekankan bagaimana mereka mampu menanamkan nilai-nilai tersebut kepada para siswanya. Bukan sebaliknya sebagaimana yang terjadi sekarang, pelajaran mengenai kearifan budaya lokal sangat minim sekali didapatkan oleh siswa. hingga detik ini siswa hanya mengetahui kearifan budaya lokal dari mata pelajaran bahasa daerah. Inipun setelah adanya revisi kebijakan dari pemerintah, karena pelajaran ini dulu sempat dihapuskan.

Kalau memang industri media massa dengan market oriented-nya tak mau merubah diri untuk mau membeberkan beragam budaya asli bangsa. Maka menjadi tugas dunia pendidikanlah untuk menanamkan segala nilai-nilai tersebut, itupun kalau dunia pendidikan tak mau disebut sebagai industri pendidikan yang profit oriented.

Selain itu hadirnya media massa lokal yang menjunjung tinggi kearifan lokal pun sangat dibutuhkan untuk terus menggali dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat. namun kehadiran media massa lokal inipun tak sepenuhnya bisa menjamin kelestarian budaya, karena tidak banyak media massa lokal yang tercerabut dari akar budayanya dan justru turut serta dalam mempopuperkan budaya-budaya asing, sebagaimana radio-radio komersil di daerah-daerah.

Radio komunitas tampaknya menjadi satu-satunya media yang potensial untuk melestarikan budaya lokal. media massa ini mempunyai keunggulan yang lebih karena ia tidak mengejar keuntungan profit. Nilai demokratis sangat tersirat dari radio komunitas karena media ini bukan milik pribadi namun milik komunitas sehingga setiap kebijakan maupun program acara yang dihadirkan selalu diawali dengan musyawarah dari seluruh anggota komunitas. Beragam kearifan budaya lokal pun bisa dihadirkan dengan leluasa di radio komunitas karena mereka tidak terbebani oleh tuntutan sponsor.

Melihat berbagai manfaat positif dari kehadiran radio komunitas diatas, maka tidak berlebihan jika penulis sangat mendukung munculnya radio komunitas di seluruh tanah air. Untuk daerah yang belum ada radio komunitas segeralah mendirikan dan jadikan radio komunitas sebagai benteng untuk menjaga dan melestarikan keutuhan budaya asli bangsa yang luhur. salam budaya…!!(Amron-SKP FM)



Sabtu, 07 Februari 2009

Radio Suara Kampung Pintar Mengudara Lagi

MAGELANG. Bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan RI, Radio Suara Kampung Pintar, akhirnya mengudara lagi. Setelah tiga bulan kru radio menggalang dana dari masyarakat, kru radio merakit satu unit pemancar 50 Watt. Sekarang, radio bisa mengudara meskipun masih ada masalah teknis di sana-sini

Radio Suara Kampung Pintar berlokasi di Desa Sambak, Kajoran, Magelang. Sebagian besar pegiatnya masih dari kru lama sebelum radio berhenti siaran karena peralatannya rusak. Radio ini juga sempat didera masalah internal sehingga sulit bangkit kembali. Semua permasalahan tersebut tidak membuat kru radio patah arang. Mereka segera menghimpun ide dan kreativitas dari warga seraya memperbaiki peralatan. Komputer yang sekarang dipergunakan masih berstatus pinjaman dan siaran dilakukan tanpa mixer.

Mereka melakukan survei pendengar sekaligus sosialisasi keberadaan radio bagi warga. Hasil survei menunjukkan sebagian besar warga mendukung keberadaan radio karena dapat menyalurkan kegiatan yang positif dan bermanfaat.

Komunitas Kampung Pintar sendiri adalah lembaga yang dikelola sebagian warga sebagai wadah pembelajaran dan aktualisasi diri. Lembaga ini bertujuan untuk memberikan akses informasi pendidikan yang murah pada masyarakat, merangsang budaya baca-tulis di kalangan anak muda, dan mengembangkan potensi lokal. Karena sebagian besar kru radio adalah pegiat Komunitas Kampung Pintar maka dunia pendidikan diangkat sebagai materi wajib siaran.

Setelah radio mengudara kembali, Komunitas Kampung Pintar akan mendirikan perpustakaan dan internet. Mereka juga mengelola blog di http://kampungpintar.blogspot.com.Semua dilakukan untuk mewujudkan cita-cita Desa Sambak sebagai kampung pintar.


Peringatan HUT RI di Desa Sambak Berlangsung Meriah

Magelang-Perayaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI di Desa Sambak kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang berlangsung meriah. Sabtu(23/08/08) masyarakat Desa Sambak tumpah ruah dijalan kampung.Mereka antusias sekali untuk ikut berpartisipasi memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke 63.

Acara ini diawali Upacara detik-detik proklamasi yang dipimpin Kepala Desa Sambak Bapak Dahlan. Disusul dengan berpawai keliling kampung. Pawai ini diikuti oleh beragam jenis kesenian yang ada di Sambak. Sa’da (29) salah satu panitia kegiatan ini mengungkapkan “Sebenarnya kesenian lokal yang ada di Sambak banyak,tapi karena tidak adanya regenerasi jadi sekarang tinggal sedikit”ujarnya. Keterlibatan seluruh siswa-siswi sekolah yang ada di Sambak juga turut menyemarakkan acara ini.
Sebelumnya,berbagai lomba yang bertema tujuh belasan juga dilaksanakan seperti lomba voly,badminton,pecah air dan lain-lain. Seluruh warga mulai dari anak-anak hingga orang tua, nampak antusias mengikuti berbagai lomba yang diadakan.
Meskipun sederhana,tetapi semangat Nasionalisme dan Patriotisme warga Desa Sambak sangat nampak dalam prosesi ini.(skp-fm)